“Oi Randu, nak kemane ikam? Dek ngantor agik kau?” Tanya Ibu Eroh dengan suara yang ditinggikan dari dalam Kantor Geofisika Tanjungpandan.

“Aku mau ke rumah bentar Bu, mau liat laptop” jawabku dengan suara agak ditinggikan pula, biar ucapanku terdengar jelas. Saat ini Tanjung pandan sedang hujan.

“Iyelah, cepat kau baliklah Randu, ati-ati petir nyambar” Ucap Bu Eroh dengan suara yang masih ditinggikan, takut aku tak mendengar pesannya. Setelah berucap seperti itu Ibu Eroh dengan jilbab polos biru tuanya kembali masuk keruangannya, ruangan Bendahara Kantor.

Aku berjalan tergesa-gesa menuju rumah, sekitar 10 meter dari kantor, suatu keanehan ekstrem yang terjadi di pulau Belitung ini. Dibandingkan di Jakarta, di sini di mana kakiku berpijak sekarang, petir terasa sangat begitu dekat. Maka dari itu dalam setiap turunnya hujan selalu saja petir menyertai dahsyatnya.

Semakin kulangkahkan kakiku menuju rumah, aku semakin khawatir akan keselamatan laptopku yang saat kutinggalkan masih dalam keadaan mengisi daya, tercolok ke sambungan listrik. Hujan semakin bersemangat membasahi bumi, langit yang kelabu ditingkahi petir yang menyambar-nyambar.

Tepat di pintu rumah, segera kurogoh saku celana, mengambil kunci rumah dengan gantungan kunci berbentuk tokoh kartun zorro dalam serial animasione piece. Baru kuputar kunci rumah sekali, terdengar sebuah suara petir yang sangat dahsyat dan terasa begitu sangat dekat, Aku menjadi panik, Kubuka pintu dan langsung berlari ke kamar, dan dengan sigap kucabu tcolokan laptop dari sumber listrik. Seketika aku menyadari listrik di rumahku padam.

Terdengar suara orang berlari di luar rumah, dan anehnya aku mencium bau hangus dari tempatku terduduk, dan aku yakin tak ada yang kumasak di dapur. Dan bau gosong ini juga tidak berasal dari laptop-ku.

“Randu,,Randu,,! Tak ape kau?” Ibu Eroh telah berdiri di depan pintu kamar dengan pakain yang agak basah dan napas yang terengah-engah.

“Iya Bu,aku tak apa-apa tapi laptop-ku mati,” seruku sedih.

“Lekas tengok diluar Randu. Pohon samping rumahmu kesambar petir, terbakar tadi” Ibu Eroh berkata dengan panik.

Aku keluar rumah dan berjalan ke arah samping. Kudapati dahan pohon terjatuh di atas tanah dalam keadaan gosong seperti arang.

Betapa beruntungnya aku, petir tidak menyambar rumahku. Kalau sampai rumahku, mungkin kali ini bukan dahan pohon yang menjadi arang, tapi aku, Randu Rahman.

“Oia Randu, coba ikam tek tengok laptop kau, tak ape kan die?” Tanya Bu Eroh dari tempatnya berdiri di teras rumahku.

“Iya Bu” kujawab dan segera berlari pelan menuju rumah.

Kunyalakan laptop-ku. Masih bisa hidup!. Puji syukur Tuhan, semua aman. Laptop-ku ini menyimpan sebagian hidupku, tak habis pikir kalau laptop ini rusak, Ku amati colokannya, dan ternyata colokannya rusak. Mungkin karena petir tadi pikirku.

“Ibu balik dulu ke kantor, kasian dak ade yang jage” kata Bu Eroh pamit

“Iya Bu, aku periksa semua dulu, baru nyusul kekantor” imbuhku

“Oke Randu, ibu tunggu”

Selepas itu Bu Eroh pergi, Langkah kakinya begitu cepat dan semakin lama suara langkahnya semakin kecil terdengar dari telingaku.Aku rasa Ibu Eroh sudah tiba kembali di Kantor.

***

“Hei Randu, tumben baca koran, biasanya main Laptop” seru om Boman yang baru datang ke kantor di sore hari ini. Om Boman akan dinas menggantikanku. Hari ini aku mendapat jatah dinas siang hari dan Om Boman malam hari.

“Iya nih Om, tadi kena sambar petir, jadi charger-nya rusak, laptop gak bisa diisi dayanya” keluhku

“Oh gitu, sudah kamu ganti?” tanya Om Boman

“Iya, saya tadi sudah beli charger yang baru di toko akiong dekat tugu batu satam yang ke arah Pantai Tanjung pendam Om” Jelasku

“Oh Bagus, di sana memang jelas menjual laptop dan perlengkapannya yang paling murah di Kota Tanjungpandan” ucap Om Boman sedikit promosi toko Akiong.

“Om di sini sangat rawan petir ya?” tanyaku.

“Iya Randu, sangat sering bahkan walaupun bukan hujan, panas terik saja terkadang ada petir.” Jelas om Boman yang berbadan tegap bekulit coklat.

“Serius Om?” tanyaku penasaran.

“Iya, dan tidak jarang petir itu menyambar tower-tower telpon di Tanjungpandan. Bahkan beberapa hari yang lalu ada seorang nelayan dari dusun Buluh Tumbang, memancing di laut dan naas nelayan itu tersambar petir. Nah itu dia yang perlu kamu pikirkan, kenapa daerah Belitung ini petirnya ekstrem, sehingga perlu alat lightning detector yang dipasang di depan kantor itu bisa memberikan peringatan dini akan bahaya petir” Om Boman berkomentar

Aku mengangguk pelan dan berpikir yang dikatakan Om Boman ada benarnya juga. Aku tidak dapat hanya duduk diam di kantor, memplototi rekaman dari alat lightning detector, tapi aku harus mengolahnya menjadi informasi yang sangat bermanfaat. Mungkin aku bisa mempelajari hasil rekaman dan menginterpretasinya. Aku akan mencoba, dan aku merasa ini sangat membuatku bersemangat.

Selanjutnya apa yang aku harus pelajari lagi, mungkin tentang bagaimana pertumbuhan awan cumulonimbus di daerah Belitung ini. Awan cumulonimbus adalah awan tempat keluarnya petir-petir. Untuk apa ilmu yang kupelajari, kalau tidak kumanfaatkan untuk keselamatan orang-orang, Aku ingin menjadi orang yang sebisa mungkin hidupku bermanfaat untuk orang lain. Ku utak atik buku dan internet, mencari referensi tentang awan dan petir, beserta software bawaan alat lightning detector.

Aku akhirnya menemukan sebuah asumsi. Di Belitung ini, negeri tambang timah, pulaunya kaya akan logam timah. Timah adalah salah satu konduktor logam yang baik untuk menghantarkan listrik. Jadi yang harus kulakukan sekarang adalah melihat peta geologi dan melihat daerah mana saja yang kandungan logam timah di bawah tanahnya banyak dan berpeluang besar menarik petir-petir semakin dekat ke tanah.

Aku harus membuktikan asumsiku tadi. Tapi bagaimana caranya?. Aku berpikir berhari-hari, dan kutemukan jawabannya. Daerah Tanjung tinggi dan Gantong mengandung banyak timah, dan letaknya dekat dengan pantai. Kemungkinan besar pertumbuhan awan Comulonimbusnya cepat dan petir sangat mudah menyambar di kedua daerah ini. Aku harus cepat memberitahu warga sekarang, sangat berbahaya jika berada di luar rumah saat petir muncul di awan. Aku perlu bukti yang kuat agar warga percaya padaku. Aku akan membawa peta geologi, penampakan awan via citra satelit dan hasil rekaman lightning detector bersamaku dan akan kutunjukkan kepada warga. Ini untuk keselamatan mereka, aku sangat berapi-api, aku persiapkan semuanya dan kemudi aku pacu motor ku ke Tanjungtinggi dan selanjutnya ke Gantong.

Writing Heroes 2015, M Soekarno

RUANG INSPIRASI

Daftar dan belajar di Ruang Inspirasi, belajar bersama 8 Mentor hebat!

RUANG INSPIRASI

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Share This

Share This

Share this post with your friends!