Udara begitu terasa panas, terik matahari sedang menyeringai di atas kepala, tak ada awan untuk warga kota ini berteduh, atau mungkin karena kulit ku yang hitam lebih perasa di bandingkan warna kulit lainnya? Mungkin saja, tapi seingat ku, dulu tak sepanas ini, hitamku ini ku dapat sejak lahir, ibu ku pun juga sama hitamnya seperti ku, bahkan adik ku lebih hitam lagi, tak terbayangkan bagaimana caranya mereka menahan rasa panas ini. Lantas saja tiap kali adikku kugendong ikut bekerja, ia selalu menangis, kiranya merasa panas lebih dari yang kurasa. Saat sedang terpaksa menikmati sengat mentari, aku duduk di tepi trotoar dan menuliskan karangan Tuhan untuk bocah seperti ku.

Namaku Lila, entah itu ditulis dengan huruf “i” atau pun “y” sampai sekarang aku tak paham betul, ibu ku tak punya waktu mengajari aku menulis, apalagi membaca, tapi aku tahu nama ku Lila karena sering di panggil dengan nama itu. Entah jadi apa aku sekarang jika aku dipanggil dengan nama yang berbeda, misalnya intan, atau puji, apakah nantinya juga aku akan menjadi orang yang berbeda dari ini? Atau mungkin juga nasib yang berbeda pula jalannya?

Tinggi tubuhku kurang lebih setinggi dada orang dewasa, kira-kira 151cm (terakhir kali di ukur di panti sosial setelah pendataan razia anak jalanan oleh satuan polisi pamong praja 3 bulan yang lalu), berambut keriting sampai bahu, berbola mata cokelat, dan bergigi rapi walaupun sedikit menguning karena tak biasa rajin bergosok gigi. Memiliki batang hidung yang cukup mancung menjadi satu-satunya hal yang bisa ku banggakan dari bagian tubuhku diantara teman-teman sepermainanku. Ibu bilang, kudapat dari ayah.

Bicara soal ayah, akan kuceritakan lain waktu.

Aku seorang yang pemalu, walaupun hidup dijalanan yang keras, yang hampir setiap hari bertemu dengan orang-orang asing bagiku, tetap saja aku tak banyak bicara, dan penakut. Apalagi jika aku bertemu dengan pria dewasa dengan otot lengannya yang besar. Mungkin aku langsung lari tanpa pikir panjang. Ya begitulah kira-kira, tapi pekerjaan ku, membuatku harus terus bertemu dengan orang yang asing, pekerjaan yang mau tak mau harus aku lakukan untuk menopang diri ku sendiri, dan jika beruntung, keluarga ku.

Setiap pagi, aku mencari sampah plastik untuk di kumpulkan dan di jual, setelah itu siang harinya menjadi peminta di persimpangan lampu merah di tengah kota. Dan terkadang, harus kubawa adikku yang masih balita untuk ikut aku bekerja, karena ibu sibuk dengan pekerjaannya. Ibu bekerja sebagai seorang buruh cuci, dengan gaji harian yang cukup untuk hanya melanjutkan hidup. Dan sebenarnya ia memintaku untuk sekolah, tapi bekerja adalah pilihanku untuk membantu Ibu, karena jikalaupun aku tahu hanya dengan pendidikan aku bisa merubah nasib keluarga ku, tapi mungkin tidak dengan sekolah. Memang benar pemerintah di kota ku menyediakan sekolah gratis bagi pendidikan dasar untuk anak seusia ku, aku sudah coba bertanya-tanya, teman sejawatku juga bersekolah, ia bilang sekolah membebaskan murid-muridnya dari biaya pembangunan dan sebagainya, tapi tidak dengan seragam sekolah dan buku-buku nya, ia masih harus juga membayarnya. Tentu saja seketika mematahkan niatku kembali untuk bersekolah, dari mana aku bisa mengumpulkan uang untuk menopang biaya-biaya itu jika tak bekerja, apalagi ibu mempunyai adikku. Dalam posisi seperti itulah aku yang belia ini untuk pertama kalinya menentukan jalan hidupku sendiri.

Aku tinggal di sebuah kota kecil di tengah pulau sumatera, tentu banyak yang tak tahu jika kusebutkan nama kota ini, tidak terlalu ramai memang, tapi banyak juga orang baik yang mau berbagi apa yang mereka punyai pada orang-orang sepertiku. Di persimpangan lampu merah tengah kota, aku menghabiskan waktu siang hingga maghrib tiba, sampai suara indah yang menutup cakrawala dunia berkumandang dari pengeras-pengeras suara mesjid. Yang ku tahu selanjutnya suara itu di sebut adzan yang di gema kan oleh muadzin.

Kalian tentu penasaran bagaimana mungkin seorang anak yang tak berpendidikan formal dan tak pernah di ajarkan ibunya membaca dan menulis, dengan seketika menceritakan tentang dirinya melalui goresan tinta dan kata.

Aku adalah suatu bentuk karya kecil keajaiban dari rasa Kemanusiaan yang besar.

Karangan ini berawal ketika ku pikir aku sedang mengalami hari sial karena kehilangan hasil penjualan plastik bekas yang ku kumpulkan sejak pagi. Uang Rp 5000,- itu hilang ditelan keteledoran dan keterlupaan bocah ini. Alhasil membuat ku harus mengarungi kembali jejak langkah kaki-kaki kecil ku sejak pagi tadi. Ku mulai dari kantin-kantin sekolah dan berujung di salah satu Kampus, tak kutemukan satu-satunya buah keringat untuk makan siang ku, beruntung hari itu mendung dan ibuku tak bekerja karenanya, dan ia mempunyai waktu untuk menjaga adik ku, jadi adik ku pun tak perlu ikut bersusah payah dengan ku, dan mungkin ini juga telah menjadi karangan-Nya.

Saat itu, sembari menggerutu oleh karena keteledoran ku, aku melepas lelah di bawah pohon beringin di ujung kantin yang sepertinya kerap di jadikan tempat berkumpulnya para mahasiswa-mahasiswi kampus itu. Disana aku berpikir dalam keraguanku untuk pulang kerumah atau melanjutkan bekerja di persimpangan lampu merah tengah Kota, ketika tengah berpikir, segerombolan mahasiswi mendekat dan duduk melingkar di sisi lain pohon tempat ku duduk dan berpikir, iseng saja aku mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Lalu, ide baru apa yang akan kita ajukan nanti saat diskusi ?”, tanya salah satu mahasiswi itu.

“Entahlah, sampai detik ini juga belum mampu mendapatkan ide itu oleh ku, terbesit pun tidak.”

“Bagaimana ini, bukan kah diskusi itu tinggal dua hari lagi?”

“………….”

Aku tinggal kan obrolan mereka, karena bagi ku saat itu tak menarik. Cuaca mendung, di bawah pohon rindang dan hembusan angin yang melegakan perasaan, membuat ku lupa dengan kecerobohan ku siang itu, sejenak pikiran ku melayang ke alam raya, sejenak bersekolah, makan sepuasnya dan bermain, sejenak bermimpi memiliki keluarga yang hidup normal selayaknya mereka diluar sana, sejenak bersepuh pada alam tentang masa depan ku, sejenak bahagia dalam alam pikir ku.

Dan aku pun tertidur.

***

“Dik…, adik… Bangun… Bangunlah…”, suara itu perlahan membangunkan ku.

Ku kira awalnya suara itu adalah anggota keamanan seperti biasanya, spontan saja aku bangun dan berdiri cepat, bersiap untuk melarikan diri sebelum diciduk ke panti sosial ataupun kantor mereka. Aku sendiri sudah bosan dengan ceramah mereka yang terus saja mengatakan sekolah lebih penting daripada bekerja sebagai pengemis dan perongsok, setelah 3 tahun ini dengan cerita yang sama, namun tak ada tindakan yang riil yang mampu mengubah keadaan ini. Sama saja, jika aku sekolah aku juga harus bekerja untuk sekolah ku, toh? Awalnya ku kira begitu lah manusia dewasa, seperti halnya mereka melarang anak kecil merokok karena alasan kesehatan, mereka tahu dan sadar dengan akibatnya, mereka selalu bilang “anak kecil belum boleh merokok! Gak baik untuk kesehatan!”, lalu pertanyaan ku pada Tuhan, jenis kebaikan apa yang memperbolehkan manusia dewasa merokok? Pernah ku tanyakan juga pada bang Samir, penjual martabak India di pasar soal itu, dia katakan,

“semua manusia pasti bakal mati kok, kenapa kamu pusing mikirinnya? nanti kalo kamu udah dewasa pasti kamu ngerti ko”. Cetusnya.

Tapi tetap saja, sampai sekarang belum kutemukan pembenaran apa pun soal kebaikan itu. Hingga detik ini, aku berharap suatu hari nanti bisa ku ketahui titik ketidak-selarasan antara pikiran dan perbuatan manusia-manusia dewasa. Dan tak perlu menunggu sampai aku dewasa untuk memahaminya. Ya harap ku saja.

Setelah berdiri aku dapat melihat dengan jelas siapa yang membangunkan ku, dan ternyata orang itu bukan dari pihak keamanan, karena sekalipun iya aku langsung kenal dari seragamnya. Melihat wajahku yang takut dan kaget, ia mencoba menenangkan:

“Jangan takut, saya bukan dari satpam kampus. Kamu kelihatannya lelah sekali sampai tertidur di bawah pohon ini?” Sambil mendekat pada ku ia bicara pelan.

Karena masih dalam keadaan belum benar-benar menyadari situasi ini, aku pun terdiam, tak mau bicara.

“Siapa nama mu..?” Tanyanya lagi.

“….”

“Baiklah kau tak jawab pun tak apa, asal jangan tidur lagi disini, awan gelap sudah mengepul, sepertinya akan hujan deras sore ini. Pulang lah kerumah mu”. Lanjutnya. Setelah itu ia memberikan ku sebungkus roti kukus dari dalam tasnya.

“Ini makanlah, buatan ku sendiri, kau tak perlu khawatir, jika kau suka, datang lagi kemari di tempat yang sama, kalau tak suka sampaikan sejujurnya padaku, jangan kau pendam”.

Masih dengan pikiran ku yang tak tahu entah kemana waktu itu, ku ambil saja roti itu tanpa mengucapkan terima kasih dan sejenisnya, mungkin karena insting perutku yang memberikan pesan ke otak sehingga menstimulasi rasa lapar pada bocah ini, entah apa yang ada dalam pikiran orang misterius itu, kiranya ia memaklumi perilaku anak jalanan seperti ku; liar, nakal, tak tahu terima kasih, tak bisa di samakan dengan anak lainnya yang bersekolah.

Setelah melemparkan senyumnya pada ku, iya pun pergi.

Langit begitu gelap, angin mulai menderu-deru dari tiupannya yang terhalang oleh dedaunan di pepohonan. Cahaya kilat berkejar-kejar dalam cela-cela himpitan awan, dan hujan berguyur terjun di muntahkan awan ke bumi, membasahi seluruh permukaan horizon pandangan ku. Aku pun bergegas pulang kerumah, berlari sambil menggenggam erat bungkusan roti itu agar tak basah oleh hujan. Dengan tangan kurus ku, ku dekap erat pada pertengahan dada dan perut ku, jauh di dalam pikiran ku pun sebenarnya aku menyadari, itu percuma, roti itu pasti basah oleh hujan sederas ini. Dengan tergesa-gesa, dibawah rauman alam oleh rintik hujan, aku memakannya sambil berlari ke rumah. Tak terbesit oleh ku untuk berteduh, entah apa yang mengusik alam pikir ku waktu itu, sampai-sampai logika ku pun ikut tersingkirkan. Sampai cerita ini ku tulis pun, aku masih mencoba mengingat-ingat apa yang ku pikirkan saat itu. Sayangnya aku tak mampu.

Kukatakan orang itu misterius karena pada saat itu aku tak mengenalnya, Ternyata titik keajaiban ini juga karena dipertemukannya dengan orang misterius itu, yang mencurahkan rasa kemanusiaannya pada bocah seperti ku, benar saja, ku kira hanya aku yang bisa menulis dan bercerita begini di antara teman sebaya ku, bahkan teman ku Bunga yang sekolah pun belum bisa menulis kalimat, aku sudah bisa berungkap rasa dengan buku saku biru dan pena. Tapi ironisnya Bunga bisa menulis namanya dengan benar, dan aku Tidak, karena ia dilahirkan di rumah sakit dan di akui sebagai warga negara dengan cantuman nama dalam Akta Kelahiran nya, sedangkan aku hanya gubuk kecil yang di bantu oleh bidan tak bersertifikat, bagaimana mungkin terpikirkan mempunyai nama resmi.

Tapi tetap saja, kepercayaan ku pada Nya tak pernah pudar, kepada Sang Pengarang.

* * *

Sudah 3 jam aku menunggu sejak pagi, ia yang ku tunggu belum juga tampak oleh ku. Atas kejadian dua hari yang lalu, rasanya ingin berterima kasih secara langsung. Duduk diam di bawah pohon yang sama sambil mengamati sekitar, aku berpikir betapa beruntungnya mereka yang dapat bersekolah dengan bantuan orang tua, sungguh baik sekali nasibnya, dan sungguh buruk sekali jalan hidupnya kalau di sia-sia kan juga.

Tiba-tiba dari arah sebaliknya datang orang misterius itu menghampiri.

“Hei…!”
“Cari aku..?”, mencoba mengagetkan ku yang sedang bengong dengan hal-hal yang tak penting.
“Mmm.. I.. Iya kak…”, jawabku spontan.

“Ada perlu apa..? Ooo aku tau, kamu pasti mau minta roti kukus buatan ku lagi kan?”, dengan penuh percaya diri ia bertanya.

“Mmmm.. Bukan kak.. Bukan…”, tepis ku karena memang bukan itu tujuan sebenarnya.

“Bukan? Berarti kamu mau bilang kalau roti kukus ku tidak enak di makan? Ternyata benar dugaan ku, aku tak punya bakat membuat roti…”, sambil bermimik sedih ia bicara.

“Bukan begitu kak, aku ingin mengucapkan terima kasih, karena membangunkan ku dan roti paling enak yang ku makan hari itu..” Jelasku padanya.

“Ooh benarkah? Kamu orang pertama yang bilang kalau roti itu enak di makan, terima kasih…” Wajahnya tersenyum memerah karena pujian ku.

“Siapa namamu…?”

“Lila kak…”

“Lila? Hanya itu…? Tak punya nama panjang?”, tampak sedikit terkejut ia mendengarnya

“Tak punya kak, ibuku tak pernah memanggilku selain nama itu, kecuali terkadang ia memanjangkannya sambil berteriak Lilaaaaaa…”,

“Hahaha.. Ada-ada saja kamu, dan berapa umur mu?”

“Kira-kira 7 Tahun kak…”

“Maksud mu kira-kira? Kamu tak tahu persisnya?”

“Tak tahu..”

“Kamu benar-benar tak tahu?”, ia bertanya lagi, lalu kugelengkan kepala ku, tanda bahwa aku memang benar tak tahu soal itu.

“Hmmm… Jangan-jangan kamu juga tak bersekolah?”,

“Tidak kak… Tak mampu.” Jawab ku ketus.

Entah kenapa saat ku ucapkan kata itu, ia seperti mendapatkan sesuatu dalam pikirannya. Tersenyum dan sedikit lebih gembira lalu mengambil sebuah buku tulis dari dalam tas nya yang berwarna kecokelatan serta mengeluarkan sebuah pulpen dari dalam sakunya sambil mengatakan,

“Betapa beruntungnya kita…! Biar kucatat dulu nama mu.”

“Maksudnya beruntung kak?” Aku terheran.

“Sebelum itu aku tanya dulu pada mu, mau kamu belajar? Aku tak katakan kalau kamu akan bersekolah, tapi setidaknya kalau kamu punya ilmu, mungkin akan berguna nanti.” Jelasnya singkat.

“Tentu aku mau sekali kak, tapi aku harus bekerja untuk makan, bagaimana mungkin aku bisa makan jika waktu kerja ku kugunakan untuk belajar..?” Tanya ku menyinggung kenyataan.

“Kamu jangan khawatir, soal itu sudah ada solusinya, anggarannya sudah ada. Project ini baru saja rampung didiskusikan pagi ini dengan dosen-dosen ku lainnya, dan mereka pun setuju dengan sukarela, alias tanpa di gaji” Jawabnya lebih cepat.

“Anggaran? Project? Dosen? Apa itu semua kak..?”, tanya ku lugu.

“Hehe… Sudahlah pokoknya kamu jangan pikirkan hal-hal itu, pada intinya kita butuh izin orang tua mu dan tekad kuatmu untuk belajar…”

“Baiklah kak, aku akan coba bicara pada ibu.” Jawabku seadanya.

“Sebelum itu tunjukan surat ini pada ibu mu sebelum kamu bicarakan pada nya, Kamu bisa membaca?”, setelah selesai ia bertanya langsung saja ku gelengkan kepala ku dan menjawab,

“Tapi Ibu ku bisa…”

“Begitu, surat ini menjelaskan semua jenis kegiatan yang akan kamu jalani nanti, jikalau ibu mu setuju, minta ia tanda tangani di kolom ini dan datang lagi kemari beserta surat ini besok.” Sambil menunjuk ruang kosong di pojok kanan bawah.

“Aku mengerti…”

“Baiklah, sekarang pulanglah, dan bawa roti ini serta salam ku pada ibu mu.” Sambil menyerahkan kantong plastik penuh roti kukus dari dalam tasnya, ia pun bergegas pergi menuju mobilnya.

“Sebentar kak…, nama kakak siapa?”, pekik ku dari kejauhan.

“Panggil aku Lila…!”, sambil tersenyum ia pun pergi.

Entah apa yang ingin sebenarnya sang Pengarang tunjukkan pada ku hari itu. Bertemu dengan orang yang namanya sama dengan ku, di beri kesempatan yang nantinya akan merubah masa depan ku dan keluarga ku, serta setumpuk makanan penyambung hidup yang kudapat tanpa harus berpanas-panasan dan bergelut dengan sampah-sampah. Aku pikir, Ia hanya ingin menunjukkan ke-unikan karakter yang Ia ciptakan, karakter Sang Manusia. Ya., tentu itu hanya jalan pikir ku.

* * *

Ke esokan harinya, aku sudah siap dan menunggu di bawah pohon beringin kampus itu sejak pagi dengan membawa surat yang di berikan pada ku kemarin. Sejak itu, pada malam harinya langsung ku bicarakan pada Ibu, Ibu bilang kegiatan ini kurang lebih sama dengan sekolah, tetapi bedanya, kami yang dilengkapi segala kebutuhannya selama aku di karantina 3 bulan di kampus tersebut untuk di didik kebutuhan kemampuan dasar manusia bertahan hidup dalam skema sosial-masyarakat (bukan hanya di alam bebas saja manusia harus belajar bertahan hidup), setidaknya meningkatkan nilai jual ku sebagai manusia-muda. Ibu ku sangat setuju, ia terlihat menyesal karena tidak bisa mengajari ku sendiri untuk membaca dan menulis, ku akui itu, tapi ia membekali ku dengan dukungannya dan doa, bagi ku itu suatu kebahagiaan melihatnya tersenyum sambil memeluk ku dan membisikkan mantra cintanya.

“Nak… Kau adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk ku, kau dan adikmu adalah alasan ku tetap hidup sampai hari ini, apa pun demi kebaikan kalian berdua, akan ku lakukan.”

Terang saja kami berdua menangis tersedu malam itu. Mendapatkan ilmu dan kesempatan untuk menggapai mimpi ku, untuk mengubah nasib keluarga ku, adalah hal yang paling hebat yang pernah ku alami sepanjang hidupku selama 10 tahun ini. Dan itu ku dapatkan karena rasa kemanusiaan Lila yang menjadi kakak angkat ku sekarang, karena Ibuku yang berhati surga, karena Dia Sang Pengarang yang memilihku untuk ikut hadir dalam terang keilmuwan. Dan kalian pun bisa membaca tulisan ku juga karena Nya, yang menetapkan hatiku untuk menjadi seorang Penulis. Seorang abdi kemanusiaan. Untuk mimpi umat Manusia.

* * *

Writing Heroes 2015, Hendra Yudha Amlik

RUANG INSPIRASI

Daftar dan belajar di Ruang Inspirasi, belajar bersama 8 Mentor hebat!

RUANG INSPIRASI

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Share This

Share This

Share this post with your friends!