Inspirator Academy - Book Review - Marketing To Middle Class Moslem - Nisrina KamiliaJudul: Marketing to the Middle Class Muslim

Penulis: Yuswohady

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Juni 2015

Cetakan: Kedua

ISBN: 978-602-03-0747-7

Book Reviewer: Diyah Febrikawati Ratna Dhahita

 

Selama lima tahun terakhir, pasar middle class muslim di Indonesia telah mengalami revolusi karena adanya pergeseran perilaku yang sangat mendasar. Perubahan dan perilaku konsumen dibahas dalam bagian I buku ini. Perubahan dan perilaku konsumen ini diantaranya:

  1. Revolusi hijab

Ada dua perubahan nilai yang paling mendasar. Yaitu semakin pentingnya nilai-nilai religiusitas dalam kehidupan sehari-hari dan cara berpikir yang semakin terbuka (open mind). Jika dulu hijab dipandang sebagai busana kampungan, puritan, dan santri. Kini berubah menjadi hijab yang modis dan trendi. Apalagi dengan munculnya berbagai macam tutorial hijab menjadikan muslimah berlomba-lomba untuk mengenakannya. Dan kini juga banyak bermunculan hijabers community.

  1. Umrah

Indonesia kini menjadi salah satu penyumbang terbesar jama’ah umrah. Umrah banyak diminati karena mengandung unsur keagamaan dan wisata. Banyak bermunculan biro perjalanan umroh yang menyediakan paket wisata gabungan yaitu umrah (ibadah) dan wisata rekreasi. Mereka  lebih memilih umrah dibandingkan haji karena tidak dibatasi waktu keberangkatan, dan faktor sosial keagamaan.

  1. Makanan halal

Pada survey yang dilakukan bulan Mei 2104, ditemukan bahwa 95 persen dari konsumen kelas menengah muslim mengecek label halal dari produk yang akan dikonsumsi. Tak heran jika produsen kini mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikat halal. Dari hal itu juga bermunculan komunitas halal yang berbagi informasi sekaligus edukasi kepada masyarakat mengenai konsep halal.

  1. Kosmetik halal

Perubahan konsumen mengenai “sadar halal” ternyata membuat produsen berbondong-bondong mendaftarkan produknya untuk mendapat sertifikasi halal. Termasuk produsen produk kecantikan. Disamping produk kosmetik, salon muslimah juga semakin menggeliat. Salon muslimah dinilai lebih aman dan nyaman karena laki-laki dilarang masuk dan semua pelayan di tempat tersebut adalah perempuan berhijab.

  1. Bank Syariah

Bank Muamalat adalah bank syariah pertama di Indonesia. Muncul pada tahun 1991, dan bank syariah bertumbuh  hampir mencapai 40% pada setiap tahunnya. Ada tiga alasan utama, mengapa nasabah memilih bank syariah. Yaitu karena produknya sesuai dengan ajaran agama, adanya rekomendasi dari teman dan mereka tertarik dengan skema yang ditawarkan perbankan syariah.

  1. Asuransi dan investasi syariah

Asuransi merupakan bentuk antisipasi terhadap bencana yang mungkin terjadi di masa depan. Kesadaran masyarakat menengah akan pentingnya asuransi juga kian meninggi. Konsep asuransi juga dipandang dari segi syariah. Banyak bermunculan asuransi syariah atau yang sering disebut dengan takaful. Asuransi syariah dijalankan dengan akad tabarru’ yang prinsipnya adalah ta’awun yaitu tolong menolong. Selain asuransi syariah juga muncul investasi syariah. Contohnya saham, reksadana syariah dan juga sukuk (obligasi syariah). Tak hanya sampai disitu. Mereka juga melakukan investasi emas. Yang mana emas merupakan pelindung nilai dari inflasi. Investasi riil seperti investasi penggemukkan sapi,  investasi kos berjamaah juga merambah pada masyarakat menengah muslim.

  1. Budaya Islam pop

Kini semakin marak hiburan yang mengandung unsur keagamaan, seperti pada sinetron, musik, film dan novel. Jika dahulu sinetron Islami hanya muncul pada saat bulan Ramadhan, kini justru sinetron Islami menjadi tontonan yang tayang setiap hari. Begitu pun dalam dunia musik, banyak band-band, penyanyi solo, juga girlband yang merilis album religi. Tak kalah dengan musik dan sinetron, novel dan film Islami juga semakin digemari masyarakat.

  1. Hotel syariah

Hotel Sofyan adalah hotel syariah pertama. Muncul pada tahun 1994. Namun hotel syariah baru berkembang mulai tahun 2011. Tingkat okupansi hotel syariah mencapai 70%. Hotel syariah memberlakukan pemisahan lantai antara pengunjung single (laki-laki dan perempuan) dengan yang sudah berkeluarga. Hampir di setiap kota di Indonesia telah bermunculan hotel-hotel syariah. Keunggulan layanan dan keterjaminan mendapatkan makanan dan minuman halal serta keperluan ibadah menjadikan hotel syariah menjadi rujukan untuk menginap.

  1. Islamic parenting

Kondisi lingkungan menjadi kekhawatiran terbesar konsumen kelas menengah muslim dalam bidang pendidikan. Umumnya, kini orang tua memasukkan anak-anaknya pada sekolah Islam terpadu atau Islamic boarding school. Selain lingkungan, teknologi juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Di sisi lain, hal ini bisa memberikan kemudahan akses berbagai informasi, namun bisa juga menjadi ancaman pada anak karena bisa saja anak mengakses informasi negatif yang dapat memberikan pengaruh buruk. Orang tua kini juga mulai mendidik anak dengan memakaikan hijab pada anak sejak kecil. Disini, pola asuh orang tua dibagi menjadi empat, yaitu permissive parrent, supportive parrent, authoritarian parent dan careless parent.

  1. Zakat dan sedekah

Harta itu ibarat air yang ditampung dalam sebuah bak. Ada saat dimana kran harus dibuka (disalurkan). Sehingga akan terjadi perputaran air didalamnya dan air tidak akan mengendap dan lama-lama menjadi kotor jika tidak ada perputaran. Begitu pula dengan zakat dalam perputaran ekonomi. Ada peran pembeli dan penjual dalam kegiatan perekonomian. Dengan begitu selalu terjadi perputaran barang dan jasa yang diperantarai oleh uang. Dalam keadaan seperti ini, keberadaan zakat begitu penting. Mereka yang menerima zakat telah memiliki dana tunai yang dapat digunakan untuk berbelanja kebutuhan. Sehingga dengan mengeluarkan zakat, maka ekonomi dapat berputar. Untuk mengetahui berapa zakat yang harus diketahui tidaklah sulit. Kini sudah muncul aplikasi kalkulator zakat, pembayaran juga bisa dilakukan tunai maupun transfer. Sementara dalam hal sedekah, sudah semakin banyak komunitas sedekah yang berada di kalangan masyarakat.

  1. Masjid dan mushala

Di masa sekarang, fungsi dasar masjid sebagai wahana ibadah tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern dengan aktivitas yang banyak sekali. Selain menjadi pusat edukasi dan pembentukan karakter, masjid kini juga menjadi pusat kegiatan ekonomi ummat. Geliat kegairahan peradaban muslim juga tercermin dari arsitektur masjid yang kian modern dan stylish. Mushala juga menjadi salah satu hal yang dicari dan dipertimbangkan masyarakat ketika memasuki mal ataupun tempat-tempat umum lainnya.

Bagian II membahas mengenai strategi dan taktik pemasaran. Ada empat sosok konsumen muslim Indonesia, yaitu:

  1. Apathist

Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, wawasan, kesejahteraan ekonomi yang rendah. Nilai-nilai Islamnya juga rendah. Hal dasar yang harus diracik oleh seorang pemasar adalah 4P (Product, price, place, promotion). Namun khusus segmen ini, 4P adalah price, price, price, price.

  1. Rationalist

Sosok ini adalah tipe konsumen yang memiliki pengetahuan, wawasan, kesejahteraan ekonomi yang tinggi. Namun nilai-nilai keislaman yang dimiliki rendah, Mereka masih memandang bahwa ritual agama adalah hal yang kuno.

  1. Conformist

Sosok ini adalah tipe konsumen yang umumnya sangat taat beribadah dan menerapkan nilai-nilai Islam secara normatif. Konsumen ini cenderung kurang membuka diri terhadap nilai-nilai di luar Islam khususnya nilai-nilai Barat.

  1. Universalist

Sosok konsumen ini memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas, pola pikir yang global dan melek teknologi. Namun nilai keagamaannya juga tinggi. Mereka menerapan nilai-nilai Islam secara substantif, bukan normatif. Mereka juga cenderung mau menerima perbedaan.

Pada bab terakhir, disampaikan enam prinsip pemasaran konsumen muslim utnuk merumuskan strategi dan taktik pemasaran yang harus dijalankan guna merespon perubahan pasar muslim. Enam prinsip itu disebut juga “The Six Principles of Marketing to Middle Class Muslim.”

  1. The principle of customer

Customer become more religius. They begin to search for spiritual value.

  1. The principle of competition

Competition is about building brand persona, connect your brand to the consumer’s heart.

  1. The principle of positioning

Be an inclusive brand. Be a universal icon.

  1. The principle of differentiation

Build authenticity through commitment and passion. Create your own DNA.

  1. The principle of value

Offer unique universal value. Balance your product and spiritual benefits.

  1. The principle of engagement

Connect your customers to each other. Build a community of messengers.

Inspirator Academy - Book Review - Marketing To Middle Class Moslem - Diyah Febrikawati

RelatedPost

RUANG INSPIRASI

Daftar dan belajar di Ruang Inspirasi, belajar bersama 8 Mentor hebat!

RUANG INSPIRASI

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Share This

Share This

Share this post with your friends!