Book - High Class ResponseJudul: High Class Response

Penulis: Harri Firmansyah

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-0323060

Tebal buku: 222 halaman

Book Review: Teguh Kaheel

Membaca buku salah satu sahabat saya ini, saya seperti menampar-nampar muka saya sendiri. Pernah nggak, Anda merasa sudah melakukan yang terbaik di aspek kehidupan selama ini? Saya pernah, bahkan cenderung sering demikian. Setelah baca buku ini, saya jadi sadar, di mana posisi saya.

Buku yang saya nilai terbit di waktu yang tepat, di tengah ingar bingar kehidupan yang kadang membuat individu lupa daratan, lupa apa yang seharusnya ia lakukan untuk kualitas hidupnya. Respons merupakan salah satu aspek penting yang menentukan kualitas hidup individu. Change your response, change your class.

Berikut cuplikan kisah yang saya ambil dari buku tersebut, tentang bagaimana respons memengaruhi kualitas hidup individu.

Arief dan Moody, dua orang project manager dari sebuah perusahaan IT multinasional yang sedang naik daun. Siang itu,setelah istirahat usai, ketika dua orang yang bersahabat iu memasuku kantornya, tiba-tiba saja mereka dicegat oleh bos mereka. Tak seperti biasanya, wajah si bos tampak memerah marah. Napasnya tersengal. Tanpa ba bi bu, Sang Atasan mendamprat mereka berdua dengan suara yang bisa didengar oleh semua orang di lanai itu. “Kerjaan kalian berdua sampah!!! Berapa kali sudah saya bilang harus maintain customer dengan real time update? Kenapa kalian tidak segera memberitahukan perubahan kebijakan perusahaan kita terhadap project-project yang sebenarnya gampang kalian urus sendiri!!!” Sambil berlalu di depan mereka berdua, serentetan kata makian terus meluncur dari Si Bos yang sedang murka. Arief dan Moody hanya bisa bengong, saling bertatapan dengan setelan wajah soak… 

Coba tebak, bagaimana reaksi Arief dan Moody terhadap “serangan mendadak” dari atasan mereka? Ternyata, Moody yang sebenarnya marah sekaligus malu karena dimaki di muka umum, tetapi tidak kuasa mengungkapkan perasaannya langsung kepada bosnya, melampiaskan itu kepada rekan satu tim yang satu ruangan, bahkan sekantor. Ia sibuk mengumpat “kelakuan” bosnya di hadapan semua rekan kerjanya. Bahkan, hingga keesokan hari, Moody masih saja nyerocos penuh emosi, mengumpat Si Atasan.

Sementara itu, Arief yang tentu saja masih kaget dengan “serangan mendadak” Sang Atasan justru memilih menenangkan pikiran, menarik napas panjang, dan menilik diri, apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki situasi sehingga bosnya tidak perlu marah besar seperti itu? Setelah keadaan tenang, keesokan hari, Arief menemui bosnya. Sedikit deg-degan, Arief menghadap bosnya untuk meminta maaf dan minta arahan agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Di luar dugaan, Si Bos justru menyadari bahwa tindakannya kemarin sedikit berlebihan. Rupanya, ia bertindak demikian karena mendapat tekanan dari Bos Besar dan mengungkapkan “kesalahan” Arief yang harus diperbaiki ke depannya.

Dari situasi di atas, kira-kira siapa di antara Moody dan Arief yang akan lebih disukai oleh rekan kerjanya pada 5 tahun mendatang? Siapa pula yang lebih sering mendapat kepercayaan dari atasan? Ya, Anda benar! Ternyata, respons yang kita berikan berdampak besar terhadap kehidupan kita. Semakin kita berlatih mendesainnya, semakin cepat kita berjalan menuju titik kesuksesan yang kita tuju.

Dari buku ini pula, saya menyadari, ternyata respons dapat dilatih.  Respons pun memiliki strata, mulai dari basic, expected, desired, wow!!!, dan unbelievable. Rupanya, seperti kebanyakan orang, respons saya selama ini masih berada di strata basic, ya paling banter di level expected. Saya sering kali merasa, apa yang sudah saya lakukan itu luar biasa padahal memang itu sudah seharusnya saya lakukan. Artinya, tindakan saya itu biasa saja, bukan sesuatu yang luar biasa atau wow – memang sudah seharusnya saya bertindak demikian.

Lucunya lagi, ternyata satu respons kecil yang Anda atau saya berikan kepada orang lain dapat berdampak luar biasa pada orang tersebut, loh! Wow banget deh! Saya semakin berdecak, rupanya lebih banyak orang memberi respons, mentok di level desired. Saya salah satunya. Biasanya, kalau sudah mentok di level desired, orang cenderung malas belajar. Akibatnya, ia mengalami apa yang dibilang U2 di salah satu lagunya: “stuck in a moment.” Mereka mati sebelum kematian sesungguhnya tiba.

Buku ini highly recommended deh! Harus baca, supaya individu menilik diri, sebenarnya bagaimana kualitas responsnya selama ini dan kualitas hidup seperti apa yang sedang ia tuju.

Jadi, sudah di strata mana respons Anda saat ini?

Inspirator Academy - Book Review - High Class Response oleh Teguh Kaheel

RelatedPost

RUANG INSPIRASI

Daftar dan belajar di Ruang Inspirasi, belajar bersama 8 Mentor hebat!

RUANG INSPIRASI

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Share This

Share This

Share this post with your friends!